 |
Informasi |
 |
|
 |
Deskripsi |
 |
|
 |
Kategori |
 |
|
|
|
 |
Cari Cepat |
 |
|
 |
Bestsellers |
 |
|
|
 |
|
|
|
|
|
1.
PERLENGKAPAN MEMBATIK CANTING |
Proses membatik secara tradisonal
ini dari masa - kemasa tidak mengalami banyak perubahan
sampai sekarang. Melihat dari bentuk dan fungsinya
peralatan batik ini cukup tradisional dan unik, sesuai
dengan caranya yang masih tradisional. Peralatan batik
tradisional ini merupakan bagian dari batik tradisional
itu sendiri karena bila dilakukan perubahan dengan
menggunakan alat/mesin yang lebih modern maka akan
merubah nama batik tradisonal menjadi kain motif batik.
Hal ini menunjukkan bahwa cara membatik ini memiliki
sifat yang khusus dengan hasil seni batik tradisional.
Bila dilihat dari segi waktu dan jumlah yang dihasilkan
yang sangat terbatas serta hasil seni dari coretan
canting pada kain mori akan menghasilkan seni batik
yang bernilai tinggi dan harga yang relatif mahal
|
A. Bandul
Bandul dibuat dari timah, atau kayu, atau batu yang
dikantongi. Fungsi pokok bandul ialah untuk menahan
mori yang baru dibatik agar tidak mudah tergeser
ditiup angin, atau tarikan si pembatik secara tidak
disengaja. Jadi tanpa bandul pekerjaan membatik
dapat dilaksanakan
|
 |
C. Dingklik
Dingklik merupakan tempat duduk orang yang membatik,
tingginya disesuaikan dengan tinggi orang duduk
saat membatik
|
 |
D. Gawangan
Gawangan terbuat dari kayu atau bamboo yang mudah
dipindah-pindahkan dan kokoh. Fungsi gawangan ini
untuk menggantungkan serta membentangkan kain mori
sewaktu akan dibatik dengan menggunakan canting
|
 |
 |
E. Wajan
Wajan ialah perkakas untuk mencairkan “malam”
(lilin untuk membatik). Wajan dibuat dari logam
baja, atau tanah liat. Wajan sebaiknya bertangkai
supaya mudah diangkat dan diturunkan dari perapian
tanpa mempergunakan alat lain. Oleh karena itu wajan
yang dibuat dari tanah liat lebih baik daripada
yang dari logam karena tangkainya tidak mudah panas.
Tetapi wajan tanah liat agak lambat memanaskan “malam”.
|
|
F. Anglo (Kompor)
Anglo dibuat dari tanah liat, atau bahan lain. Anglo
ialah alat perapian sebagai pemanas “malam”.
Kompor dibuat dari Besi dengan diberi sumbu.. Apabila
mempergunakan anglo, maka bahan untuk membuat api
ialah arang kayu. Jika mempergunakan kayu bakar
anglo diganti dengan keren ; keren inilah yang banyak
dipergunakan orang di desa-desa. Keren pada prinsipnya
sama dengan anglo, tetapi tidak bertingkat.
|
 |
G. Tepas
Tepas ini tidak dipergunakan jika perapian menggunakan
kompor. Tepas ialah alat untuk membesarkan api menurut
kebutuhan ; terbuat dari bambu. Selain tepas, digunakan
juga ilir. Tepas dan ilir pada pokoknya sama, hanya
berbeda bentuk. Tepas berbentuk empat persegi panjang
dan meruncing pada salah satu sisi lebarnya dan
tangkainya terletak pada bagian yang runcing itu.
|
 |
H.
Taplak
Taplak berfungsi untuk menutup dan melindungi paha
pembatik dari tetesan lilin malam dari canting.
|
|
I.
Kemplongan
Kemplongan merupakan alat yang terbuat dari kayu yang
berbentuk meja dan palu pemukul alat ini dipergunakan
untuk menghaluskan kain mori sebelum di beri pola
motif batik dan dibatik.
|
 |
J.
Canting
Canting merupakan alat untuk melukis atau menggambar dengan coretan
lilin malam pada kain mori. Canting ini sangat menentukan nama batik
yang akan dihasilkan menjadi batik tulis. Alat ini terbuat dari kombinasi
tembaga dan kayu atau bamboo yang mempunyai sifat lentur dan ringan.
|
 |
|
Canting Dapat Dibedakan dalam Beberapa Macam: |
| |
a. Menurut fungsinya
- Canting Reng-rengan
Canting reng-rengan dipergunakan untuk membatik
Reng-rengan. Reng-rengan (ngengrengan) ialah batikan pertama kali
sesuai dengan pola sebelum dikerjakan lebih lanjut. Orang membatik reng-rengan
disebut ngengreng. Pola atau peta ialah batikan yang dipergunakan sebagai
contoh model. Reng-rengan dapat diartikan kerangka. Biasanya canting
reng-rengan dipergunakan khusus untuk membuat kerangka
pola tersebut, sedangkan isen atau isi bidang dibatik
dengan mempergunakan canting isen sesuai dengan
isi bidang yang diinginkan. Batikan hasil mencontoh
pola batik kerangka ataupun bersama isi disebut
Polan. Canting reng-rengan bercucuk sedang dan tunggal.
-.Canting Isen
Canting Isen ialah canting untuk membatik isi bidang,
atau untuk mengisi
polan. Canting isen bercucuk kecil baik tunggal
maupun rangkap.
|
| |
b. Menurut besar
kecil cucuk
Canting dapat dibedakan :
- Canting carat (cucuk) kecil.
- Canting carat (cucuk) sedang.
- Canting carat (cucuk) besar.
|
| |
c.
Menurut banyaknya carat (cucuk)
Canting dapat dibedakan :
- Canting cecekan.
Canting cecekan bercucuk satu (tunggal), kecil, dipergunakan
untuk membuat titik- titik kecil (Jawa : cecek). Orang
membuat titik-titik dengan canting cecekan disebut
“nyeceki”. Selain untuk membuat titik-titik
kecil sebagai pengisi bidang, canting cecekan dipergunakan
juga untuk membuat garis-garis kecil.
- Canting loron.
Loron berasal dari kata loro yang berarti dua. Canting
ini bercucuk dua,berjajar atas dan bawah, dipergunakan
untuk membuat garis rangkap.
- Canting telon
Telon dari kata telu yang berarti tiga. Canting ini
bercucuk tiga dengan susunan bentuk segi tiga. Kalau
canting telon dipergunakan untuk membatik, maka akan
terlihat bekas segi tiga yang dibentuk oleh tiga buah
titik, sebagai pengisi.
|
|
 |
| |
-
Canting prapatan
Prapatan dari kata papat yang berarti empat. Maka
canting ini bercucuk empat, dipergunakan untuk membuat
empat buah titik yang membentuk bujursangkar sebagai
pengisi bidang.
- Canting liman
Liman dari kata lima. Canting ini bercucuk lima untuk
membuat bujursangkar kecil yang dibentuk oleh empat
buah cicik dan sebuah titik ditengahnya.
-. Canting byok
Canting byok ialah canting yang bercucuk tujuh buah
atau lebih dipergunakan untuk membentuk lingkaran
kecil yang terdiri dari titik-titik, ; sebuah titik
atau lebih, sesuai dengan banyaknya cucuk, atau besar
kecilnya lingkaran. Canting byok biasanya bercucuk
ganjil.- Canting renteng atau galaran
Galaran berasal dari kata galar, suatu alat tempat
tidur terbuat dari bambu yang dicacah membujur. Renteng
adalah rangkaian sesuatu yang berjejer ; cara merangkai
dengan sistem tusuk. Canting galaran atau renteng
selalu bercucuk genap ; empat buah cucuk atau lebih
: biasanya paling banyak enam buah, tersusun dari
bawah ke atas.
|
| |
| Gambar
Bentuk-bentuk Canting |

|
| 2.
KAIN MORI |
Mori
adalah bahan baku batik dari katun. Kwalitet mori
bermacam-macam, dan jenisnya sangat menentukan baik
buruknya kain batik yang dihasilkan. Karena kebutuhan
mori dari macam-macam kain tidak sama, keterangan
dibawah ini barangkali bermanfaat juga. |
| 1.
Ukuran mori |
| |
Mori
yang dibutuhkan sesuai dengan panjang pendeknya kain
yang dikehendaki. Ada juga kebutuhan yang pasti misalnya
udheng atau ikat kepala. Udheng berukuran lebih atau
kurang dari kebutuhan ; oleh karena itu tidak dapat
dipergunakan sesuai dengan pemakaian yang semestinya.
Tetapi kain tidak pasti ukurannya. Jika pendek akan
mempengaruhi kesempurnaan pemakaiannya ; jika lebih
panjang akan menambah sempurna dalam pemakaian. |
| |
Cara
mengukurnya pun hanya dengan jalan memegang kedua
sudut mori pada sebuah sisi lebar dan menempelkan
salah satu sudut tadi pada sisi panjang berseberangan
sepanjang lebar mori. Kalau akan mengambil beberapa
kacu, maka berganti-ganti tangan kiri dan kanan memegang
sudut mori itu, menempelkan pada sisi panjang yang
sama dengan menekuk mori |
|
 |
| 2.
Kebutuhan akan mori |
|
|
| |
Kain dodot membutuhkan mori
7 kacu. Kain dodot biasanya dipakai oleh keluarga
kraton atau penari klasik.Tetapi karena kain dodot
mahal harganya, maka fungsi kain dodot para penari
diganti oleh kain biasa yang cukup panjang. Kain
nyamping membutuhkan 2 atau 2.5 kacu, menurut kesenangan
atau besar kecilnya si pemakai. Udheng membu-tuhkan
mori sekacu. Udheng ada dua macam; “udheng
lembaran” dan “udheng jadi”. Udheng
jadi ialah udheng yang sudah berbentuk, tinggal
pakai. Udheng jadi ini sebenarnya hanya membutuhkan
kain setengah kacu, dan memotongnya secara diagonal.
Sedang udheng lembaran dibentuk sewaktu akan dipakai,
langsung dikepala si pemakai ; selesai dipakai udheng
itu dilepas lagi. Udheng
terakhir ini membutuhkan mori sekacu ; tetapi secara
praktis juga hanya setengah kacu, karena setengah
kacu lagi terlipat didalam sebagai penebal belaka.
Oleh karenanya udheng lembaran
dapat dibatik menurut dua macam motif batik dengan
batas salah satu diagonal. Dalam hal udheng yang
memakai dua macam motif batik itu, si pemakai bebas
memilih motif mana yang ditaruh diluar untuk diperlihatkan.
|
|
 |
| 3.
Mengolah mori sebelum dibatik |
Sebelum dibatik mori harus
diolah lebih dahulu. Baik buruknya pengolahan akan
menentukan baik buruknya kain. Pengolahan mori adalah
sebagai berikut: Mori yang sudah dipo-tong dipli-pit.
Diplipit ialah dijahit pada bekas potongan supaya
benang “pakan” tidak terlepas. Benang
pakan ialah benang yang melintang pada tenunan.
Setelah diplipit kemudian dicuci dengan air tawar
sampai bersih. Kalau mori kotor, maka kotoran itu
akan menahan mere-sapnya cairan lilin (malam yang
dibatikkan) dan menahan cairan warna pada waktu
proses pem-babaran. Di daerah Yogyakarta dan Surakarta
mori dijemur sampai kering setelah dicuci. Tetapi
didaerah Blora, setelah dicuci berih mori terus
direbus.
Setelah wantu panas, mori
bersih dimasukkan kedalamnya. Cara memasukkan mori
kedalam wantu mulai dari ujung sampai pangkal secara
urut. Rebusan memakan waktu beberapa menit. Mori
kemudian diangkat dan dicuci untuk menghilangkan
kotoran sewaktu direbus.
|
|
 |
Selesai
dicuci barulah dijemur sampai kering. Mori menjadi
lemas ; kemudian dikanji. Bahan kanjialah beras. Didaerah
Blora dipakai sembarang beras asalkan putih. Beras
direndam beberapa saat dalam air secukupnya ; kemudian
beras bersama airnya direbus sampai mendidih. Air
rebusan beras diambil dan dinamakan tajin. Mori kering
dimasukkan kedalam tajin sampai merata ; tanpa diperas
langsung dijemur supaya kering. Akhirnya mori menjadi
kaku.
Setelah mori lembab, kemudian dikemplong. Dikemplong
ialah dipukuli pada tempat tertentu dengan cara tertentu
pula, supaya benang-benang menjadi kendor dan lemas,
sehingga cairan lilin dapat meresap. Cara mengemplong
mori. Disediakan kayu kemplongan sebagai alas dan
alu pemukul atau “ganden” (ganden ialah
martil agak besar terbuat dari kayu). Mori dilipat
memanjang menurut lebarnya. Lebar lipatan lebih kurang
setengah jengkal ; kemudian ditaruh diatas kayu dasar
memanjang, lalu dipukul-pukul. Jika perlu dibolak-balik
agar pukulan menjadi rata.
|
|
 |
| |
 |
|
Setelah
dikemplong, tinggal menentukan motif batikan yang
dikehendaki. Jika ingin motif parang-parangan, atau
motif-motif yang membutuhkan bidang-bidang tertentu,
maka mori digarisi lebih dahulu. Fungsi penggarisan
ini hanyalah untuk menentukan letak motif agar menjadi
rapi (lurus). Pembatik yang sudah mahir tidak menggunakan
penggarisan. Besar kecilnya garisan tidak sama, tergantung
pada motif rencana batikan. Biasanya kayu garisan
berpenampang bujursangkar. |
| |
 |
Cara
memindah kayu penggaris setelah garis pertama ke garis
kedua ialah dengan memutar kayu penggaris (membalik),
tanpa mengang-katnya. Maka lebar sempitnya ruang antara
garis satu sama lain ditentukan oleh banyaknya putaran
kayu penggaris. Mori yang dibatik motif semen tidak
perlu digarisi, langsung dirangkap dengan pola pada
muka mori sebaliknya. Setelah semua itu selesai, barulah
dapat dimulai kerja membatik. |
|
| |
| 3.
LILIN (“MALAM”) |
Lilin
atau “malam” ialah bahan yang dipergunakan
untuk membatik. Sebenarnya “malam” tidak
habis (hilang), karena akhirnya diambil kembali pada
waktu proses mbabar, proses pengerjaan dari membatik
sampai batikan menjadi kain. Tentang “malam”
dapat dikemukakan sebagai berikut : |
| |
1.
Jenis Malam Dan Campurannya. |
| |
“Malam” yang
dipergunakan untuk membatik macam-macam jenisnya.
Kwalitet ini berpengaruh terutama pada daya serap,
warna yang dapat mempengaruhi warna mori (kain),
halusnya cairan, dan sebagainya.
Maka harganya pun akan berbeda-beda. Tetapi dalam
pemakain kita tergantung pada kebutuhan.
Jenis “malam”
itu ialah :
|
| |
|
“Malam
Tawon” (lebah ) ialah “malam” yang
berasal dari sarang lebah ( tolo tawon). Tolo tawon
dipisahkan dari telur lebah dengan jalan merebusnya. |
| |
|
“Malam
Klanceng” ialah “malam” dari sarang
lebah klanceng, dan didapat dengan cara seperti tersebut
diatas. |
| |
|
“Malam
Timur” ialah “malam” terbaik. Jenis
ini belum diketahui bahannya. |
| |
|
“Malam
Sedang”, asal dan bahannya belum dapat diketahui. |
| |
|
“Malam
Putih”, berasal dari minyak latung buatan pabrik. |
| |
|
“Malam
Kuning”, berasal dari minyak latung buatan pabrik. |
| |
|
“Malam
Songkal”, berasal dari minyak latung buatan
pabrik. Warnanya hitam dan hanya untuk campuran. |
| |
|
Keplak ialah
bahan campuran. |
| |
|
Gandarukem
ialah bahan campuran. |
| |
| |
2.
Cara Mencampur Malam |
| |
Aturan
cara mencampur malam adalah sebagai berikut
Malam putih seberat 100 buah uang sen (uang sen jaman
Belanda) dengan malam hitam (sangkal) seberat 50 buah
uang sen, dan "malam klancen,," seberat
50 buah uang sen. atau "Malam timur" seberat
100 buah uang sen dengan "malam" bekas batikan
yang sudah kena wedelan seberat 50 buah uang sen,
dan malam klancen berat 50 buah uang sen
|
 |
| 4.
PROSES MEMBATIK |
| |
Mori
yang sudah di kemplongi dan di garisi, apabila akan
dibatik dengan motif jenis parang-parangan atau motif
lain yang membutuhkan bidang tertentu serta lurus,
umumnya di”rujak”. Dirujak artinya membatik
tanpa mngunakan pola ; orang yang membatik demikian
disebut “ngrujak”. Orang yang Ngrujak
adalah orang yang sudah ahli. Sedang orang yang baru
taraf belajar atau belum lahir biasanya hanya “nerusi”
atau “ngisen-ngiseni”. Sedangkan membatikdengan
mempergunakan pola sudah diterangkan dimuka. Baik
membatik rujak maupun membatik mempergunakan pola
biasanya dilakukan oleh orang-orang yang sudah ahli,
sebab taraf permulaan ini merupakan penentuan buruk-baiknya
bentuk batikan secara keseluruhan. |
| |
|
|
| 1.
Persiapan Membatik |
| |
a. |
Keren,
atau anglo dan wajan berisi “malam” harus
sudah siap untuk mulai membatik. Malam harus sempurna
cairnya (malam tua). Supaya lancar keluarnya melalui
cucuk canting ; selain itu malam dapat meresap dengan
sempurna dalam mori. Api dalam anglo atau keren harus
dijaga tetap membara, tetapi tidak boleh menyala,
karena berbahaya kalau menjilat malam dalam wajan. |
| |
b. |
Mori
yang sudah dipersiapkan harus telah berada diatas
gawangan dekat keren, anglo. Si pembatik duduk diantara
gawangan dan keren atau anglo.
Gawangan berdiri disebelah kiri dan keren disebelah
kanan pembatik. Orang yang pekerjaannya membatik disebut
“pengobeng”.
|
| |
c. |
Setelah
semuanya beres pembatik memulai tugasnya. Pertama
memegang canting. Cara memegang canting berbeda dengan
cara memegang pensil, atau pulpen untuk menulis. Perbedaan
itu disebabkan ujung cucuk cantingbentuknya melengkung
dan berpipa besar, sedang pensil atau pulpen lurus.
Memegang canting dengan ujung-ujung ibu jari, jari
telunjuk dan jari tengah seperti memegang pensil untuk
menulis, tetapi tangkai canting horizontal, sedangkan
pensil untuk menulis dalam posisi condong. Posisi
canting demikian itu untuk menjaga agar malam dalam
nyamplunga tidak tumpah. |
| |
d. |
Dengan canting itu pengobeng
menciduk malam mendidih dalam wajan kemudian dibatikkan
diatas mori. Sebelum dibatikkan canting ditiup lebih
dahulu cara meniuppun dengan aturan tertentu, agar
malam dalam nyamplungan tidak tumpah pada bibir
pengobeng.
Canting ditiup dengan maksud
:
|
| |
1. |
Untuk
mengembalikan cairan malam dalam cucuk kedalam nyamplungan,
supaya tidak menetes sebelum ujung canting ditempelkan
pada mori. |
 |
| |
2. |
Untuk
menghilangkan cairan malam yang membasahi cucuk canting
; karena cucuk canting yang berlumuran cairan malam
akan mengurangi baiknya goresan, terutama ketika permulaan
canting diproseskan pada mori. |
| |
3. |
Untuk mengontrol cucuk canting
dari kemungkinan tersumbat oleh kotoran malam. Kalau
tersumbat, maka cairan dalam nyamplungan tidak bersuara,
karena udara tidak dapat masuk. Maka lubang ujung
cucuk ditusuk memakai ijuk, atau serabut kelapa
sampai masuk sepanjang cucuk. Biasanya sesudah ditusuk
ditiup kembali, atau langsung dibatikkan pada mori.
Keitimewaan menusuk ialah memakai tangan kiri dengan
cara tertentu dalam waktu yang cepat.
|
| |
4. |
Canting
yang beres keadaannya baru digoreskan pada mori. Tangan
kiri terletak disebalik mori. Sebagai landasan (penguak)
mori yang baru digores dengan canting. Jika cari cairan
malam dalam nyamplungan habis, atau kurang lancar
mungkin karena pendinginan, malam itu dikembalikan
kedalam wajan ; canting dicidukkan pada cairan malam
dalam wajan itu juga. Pengembalian cairan malam yang
sudah dingin tadi tidak besar pengaruhnya terhadap
malam dalam wajan. Hal itu dilakukan smpai selesai,
dan termasuk nemboki. |
| |
|
|
|
| 2.
Tahap-tahap Membatik |
Tahap-tahap membatik sepotong
mori harus dikerjakan tahap demi tahap. Setiap tahap
dapat dikerjakan oleh orang yang berbeda tetapi
sepotong mori tidak dapat dikerjakan beberapa orang
bersamaan waktu.
Tahap-tahap itu ialah :
|
| |
a.
membatik kerangka |
| |
|
membatik
kerangka dengan memakai pola disebut “mola”,
sedang tanpa pola disebut “ngrujak”. Mori
yang sudah dibatik seluruhnya berupa kerangka, baik
bekas memakai pola maupun dirujak, disebut “batikkan
kosongan”, atau disebut juga “klowongan’.
Canting yang dipergunakan ialah canting cucuk sedeng
yang disebut juga canting klowongan. |
| |
b. ngisen-iseni |
| |
|
ngisen-iseni
dari kata “isi”. Maka ngisen-iseni berarti
memberi isi atau mengisi. Ngisen iseni dengan mempergunakan
canting cucuk kecil disebut juga canting isen canting
isen bermacam-macam. Tetapi sepotong mori belum tentu
mempergunakan seluruh macam canting isen, tetapi tergantung
pada motif yang akan di buat.Umpama memerlukan bermacam
-macam canting isen karena beraneka ragam ; Tetapi
membatik harus satu persatu, dan setiap bagian harus
selesai sebelum bagian lain dikerjakan dengan canting
lain misalnya kalau “nyeceki” (membuat
motif yang terdiri dari titik-titik), |
 |
| |
|
bagian cecekan harus selesai seluruhnya. Kegiatan
mengerjakan bagian-bagian mempunyai nama masing-masing
; nama tersebut menurut nama canting yang dipergunakan.
Proses pemberian nama ialah dengan mengubah nama benda
(nama canting) menjadi kata kerja, sedang hasil kerjanya
diambil dari nama canting yang dipergunakan. Nama
itu ialah : nyeceki yaitu mempergunakan canting cecekan,
hasilnya bernama cecekan. Neloni ialah mempergunakan
canting Telon, hasilnya disebut telon. Mrapati ialah
mempergunakan Canting Prapatan, hasilnya, dan seterusnya.
Tetapi mempergunakan Canting Galaran atau Canting
Renteng, selalu disebut ngalari, dan tidak pernah
disebut “ngrentengi” ; sedang hasilnya
selalu disebut “galaran”, tidak pernah
disebut “rentengan”
Cara penggunaan canting bertahap itu banyak keuntungannya.
Keuntungan pertama ialah canting dapat dipergunakan
bergantian dalam satu rombongan pengobeng (pembatik
yang berbeda-beda tugasnya (berbeda tahap batikan
yang dikerjakan) ; Keuntungan kedua kedua ialah mengurangi
jumlah canting yang semacam meskipun anggota pengobeng
cukup banyak. Kalau dua orang bersamaan akan menggunkan
canting semacam, sedangkan cantinga hanya sebuah,
maka salah satu dapat menundanya dan mengerjakan bagian
lain dengan canting lain. Demikian seterusnya.
Batikkan yang lengkap dengan isen-isen disebut “reng-rengan”.
Oleh kaena namanya reng-rengan maka pengobeng yang
membatik sejak permuaan sampai penyelesaian (akhir)
memberi isen-isen disebut “ngengreng”.
Jadi ngerengan merupakan kesatuan motif dari keseluruhan
yang dikehendaki. Hal itu merupakan penyelesaian yang
pertama.
|
| |
c.
Nerusi |
| |
|
Nerusi
merupakan penyelesaian yang kedua. Batikan yang berupa
ngengrengan kemudian di balik permukaannya, dan dibatik
kembali pada permukaan kedua itu. Membatik nerusi
ialah membatik mengikuti motif pembatikan pertama
pada bekas tembusnya. Nerusi tidak berbeda dengan
mola dan batikan pertama berfungsi sebagai pola. Canting-cantingyang
dipergunakan sama dengan canting canting untuk ngengreng
nerusi terutama untuk mempertebal tembusan batikan
pertama serta untuk memperjelas. Batikan yang selesai
pada tahap ini pun masih disebut “ngengrengan”.
Pengobeng yang membatik dari permulaan sampai selesai
nerusi disebut “ngengreng”. |
| |
d.
Nembok |
| |
|
Sebuah
batikan tidak seluruhnya diberi warna, atau akan diberi
warna yang bermacam-macam pada waktu penyelesaian
menjadi kain.Maka bagian-bagian yang tidak akan diberi
warna, atau akan diberi warna sesudah bagian yang
lain harus ditutup dengan malam. Cara menutupnya seperti
cara membatik bagian lain dengan mempergunakan canting
tembokan. Canting tembokan bercucuk besar. Orang yang
mengerjakan disebut “Nembok” atau nemboki
dan hasilnya disebut “tembokan”. Bagian
yang ditembok biasanya disela-sela motif pokok. Menembok
biasanya mempergunakan malam kualitas rendah. Meskipun
malam penuh kotoran tetapi canting canting bercucuk
besar tidak banyak terganggu. Selain itu bagian tembokan
cukup lebar dan tebal,sehingga kurang baiknya malam
untuk nembok dapat diatasi. |
 |
| |
|
Pada
hakekatnya fungsi malam selain untuk membentuk motif,
juga untuk menutup pada tahap-tahap pemberian warna
kain, dimana warna itu sebagai pembentuk motif batik
yang sesungguhnya. Nem-bok hanya pada sebelah muka
mori. |
| |
e.
Bliriki |
| |
|
 |
Bliriki
ialah nerusi tembokan agar bagian-bagian itu tertutup
sungguh –sungguh. Bliriki mempergunakan canting
tembokan dan caranya seperti nemboki.
Apabila tahap terakhir ini sudah selesai berarti proses
membatik selesai juga. Hasil Bliriki disebut “blirikan”
tetapi jarang disebut demikian, lebih biasa disebut”tembokan”.
Memang membatik disebut selesai apabila proses terakhir
tadi selesai ;atau kalau batikan tidak perlu ditembok,maka
yang disebut batikan selesai adalah sebelum ditembok.
Pada jaman yang silam didaerah Surakarta, setiap selesai
tahap-tahap tadi, batikan dijemur sampai “malam
“ nya hampir meleleh. |
| |
|
Maksud
penjemuran itu ialah agar supaya lilin pada mori tidak
mudah rontok atau hilang. Sebab “malam”
(mendidih) waktu dipergunakan untuk membatik dan bersinggungan
dengan mori dingin akan membeku tiba-tiba karena proses
“kejut”. Pembekuan malam demikian itu
kurang baik, karena batikan sering patah-patah dan
malam mudah rontok. |
| |
|
 |
Tetapi
jika dijemur,pemanasan terjadi secara merata , dan
mori ikut terpanasi.Mori yang mengalami pemanasan
sinar matahari akan mengembang, dan mempunyai daya
serap. Proses mengembang ini memperkuat melekatnya
malam yang mulai akan meleleh;sebelum malam itu meleleh
batikan harus diangkat dengan hati-hati ke tempat
teduh. |
| |
|
Di
tempat teduh, batikan secara serentak akan mendingin.
Proses pendinginan ini pun ada keuntungannya, karena
antara mori dan malam saling memperkuat daya lekat.Selesailah
kerja membatik. |
| |
|
|
|
| 5.
MBABAR |
Mbabar
ialah proses penyelesaian dari batikan menjadi kain.
Selesai batikan dibliriki, meningkat pengerjaan selanjutnya,
yaitu memproses menjadi kain. Dibeberapa daerah cara
mbabar pada garis besarnya sama. |
Perbedaan
hanyalah terletak pada perbandingan bahan adonan yang
dipergunakan. Ada suatu daerah dimana perbandingan
bahan adonan sudah tertentu sesuai dengan kain yang
diinginkan. Tetapi ada pula daerah yang mempergunakan
perbandingan tidak menentu dan hanya berdasar perkiraan
menurut pengalaman. Selain itu perbedaan terletak
pada jangka waktu yang dibutuhkan setiap tahap-tahap
mbabar. Ada pula yang mempergunakan jangka waktu tertentu
; tetapi ada pula yang berdasar perkiraan saja. Perbedaan-perbedaan
itu mempengaruhi kwalitet kain yang diproduksi setiap
daerah. Hal itu tidak mustahil karena pada mbabar
terdapat proses kimia ; sedang waktu adalah sangat
besar pengaruhnya terhadap proses kimia. Tetapi proses
ini belum diketahui secara mendalam oleh para pembabar
masa silam. |
 |
|
| 1.
Bahan Untuk Mbabar |
Pada umumnya untuk mbabar
batikan dipergunakan bahan hasil alam dengan pengolahan
sederhana. Memang bumi Indonesia kaya akan hasil
alam yang bermacam-macam.
Bahan untuk mbabar, antara
lain :
|
| |
a.
NILA |
| |
|
Nila
dari tumbuh-tumbuhan tarum (Jawa tom). Sudah sejak
jaman purbakala tarum dipakai untuk membuat warna
pakaian. Nila dipergunakan untuk medel batikan dengan
campuran bahan yang lain. |
| |
b.
TEBU |
| |
|
Tebu
diambil gulanya atau tetes; sebagai campuran. |
| |
c.
ENJET (KAPUR SIRIH) |
| |
|
Dipergunakan
untuk campuran. |
| |
d.
TAJIN |
| |
|
Tajin
ialah semacam kanji yang diambil dari air rebusan beras. |
| |
e.
SOGA |
| |
|
Soga
nama tumbuh-tumbuhan dari keluarga papilionaceae dan
mempunyai warna kuning. |
| |
f.
SAREN |
| |
|
Saren
dari kata sari berarti inti atau pati. Di Jawa terdapat
istilah “saren” ;yang dimaksud adalah
darah lembu (kerbau) yang dipotong dan dimasak. Di
sini saren adalah suatu ramuan, atau adonan dari beberapa
bahan untuk mencelup batikan sesudah disoga. Dan tahap
ini adalah tahap menghilangkan “malam”,
atau mendekati penyelesaian. |
| |
|
|
|
| 2.
Proses Mbabar Batikan Menjadi Kain. |
Proses ini terbagi dalam
beberapa tahap dan harus diselesaikan secara urut.
Kalau batikan sudah dibliriki, pekerjaan meningkat
kepada tahap pertama proses mbabar.
Tahap-tahap itu ialah :
|
| |
A.
Medel Dan Mbironi |
| |
|
Bahan
pokok untuk medel ialah nila (tarum). Lebih dahulu
disediakan air 24 pikul, satu pikul lebih kurang 40
liter. Sebuah jambangan diisi air 21 pikul dan sebuah
lagi tetap dikosongkan. Jambangan yang berisi air
kemudian diberi latak. Latak ialah endapan cairan
nila. Banyaknya latak 3 pikul, diaduk pagi dan sore
selama 2 atau 3 hari. Pada pagi hari ke-3 atau 4,
jika keadaan latak dalam campuran tersebut sudah kelihatan
hitam, maka air diatas endapan diambil dan dipindah
ke jambangan yang kosong. Endapan latak campuran ditambah
lagi dengan latak baru sebanyak 2 pikul dan gula tetes
sebanyak sebatok (batok yang dimaksud ialah tempurung
kelapa belah dua dan diambil dagingnya). Warna campuran
akan menjadi kuning. Sore harinya ditambah lagi dengan
nila yang amat hitam sebanyak 1,5 pinggan besar (pinggan
ialah mangkok besar). |
 |
| |
|
Keesokan
harinya, kira jam 6.00, nila dalam jambangan sudah
dapat dimasuki batikan. Nila sebanyak itu diperuntukkan
bagi batikan sebanyak 30 potong, masing-masing 2,5
kacu. Pencelupan ini memakan waktu kira-kira 2 jam
; setelah itu diangkat dari rendaman dan ditaruh pada
suatu sampiran tanpa dibentangkan, sampai air tidak
menetes (atus). Pengangkatan dari rendaman dan penempatan
sampai “atus” disebut “kasirep”
(kasirep dari kata sirep kurang lebih berarti “reda”).
Jika sudah atus atau tidak menetes airnya, kemudian
dimasukkan ke dalam nila kembali selama dua jam :
setelah itu diangkat dan dijemur sampai kering. Pengangkatan
kedua dan penjemuran sampai kering disebut “kageblogi”(
kageblogi dari kata “geblok” berarti suatu
cara memukul, atau suatu ukuran kelompok).
|
 |
| |
|
Setelah
batikan kering, dimasukkan lagi ke dalam nila. Pekerjaan
ini dilakukan beberapa kali sampai batikan mencapai
warna hitam. Kalau batikan sudah berwarna hitam, barulah
kerja tersebut berhenti. Nila bekas pencelupan segera
ditambah dengan endapan nila sebanyak 1,5 pinggan
besar. Penambahan ini disebut “nglawuhi”
(nglawuhi dari kata lawuh berarti lauk pauk untuk
makan). Tetapi arti atau fungsi nglawuhi dalam proses
mbabar kain ini adalah sebagai penyempurna. Sekarang
nila berwarna kuning. Kalau terlalu kuning akan berbahaya
sebab dapat merontokkan “malam”, sedangkan
tugas “malam” pada mori belum selesai.
Warna terlalu kuning disebabkan kurang enjet (kapur
sirih). Tetapi jika terlalu banyak enjet, warnanya
akan menjadi hijau, tidak dapat untuk menghitamkan
batikan. Untuk mengembalikan warna menjadi kuning,
cukuplah diberi cuka Jawa (?) atau gula tetes. |
| |
|
Seandainya
belum juga kuning, diberi gula tebu dan asam sampai
warna berubah menjadi kuning kembali sesuai dengan kebutuhan.
Setelah itu batikan dimasukkan kembali dalam adonan
nila seperti kerja di atas. |
| |
|
 |
Sekarang batikan sungguh-sungguh berwarna hitam. Setelah
cukup batikan diangkat dan dicuci dalam air tawar
dan dikeringkan pada tempat teduh.
Batikan yang sudah kering direndam dalam air tawar
sampai “malam” bluduk (bluduk ialah seperti
keadaan akan rontok). “Malam” pada batikan
reng-rengan dan terusan dikerok memakai alat tertentu
sampai bersih ; sedangkan “malam” pada
tembokan dan blirikan tidak dikerok. Batikan yang
sudah dikerok terus dibilasi (dibilasi ialah pencucian
yang kedua kali) sampai air cucian kelihatan bersih,
dan dikeringkan kembali pada tempat yang teduh. Setelah
batikan kering, lalu dikanji memakai “tajin
busuk” (basi) dengan gula tebu. Perbandingan
campuran ialah 3 gelas tajin dengan gula seberat 3
buah uang sen. Setelah dikanji batikan dikeringkan
kembali. Sesudah kering dibironi pada bagian-bagian
yang membutuhkan warna biru (dibironi diberi warna
biru). Sebelum dibironi, bagian-bagian yang tidak
membutuhkan warna biru ditutup dengan “malam”.
Cara menutup seperti membatik tembokan dan bliriki.
Selesai dibironi, meningkat ke tahap ketiga yaitu
di “soga”.
|
| |
|
Kemudian
batikan dibironi. Reng-rengan batikan dikerok sampai
bersih seperti cara yang sudah diterangkan. Sesudah
dikerok terus dicuci dan dikeringkan, atau tanpa dikeringkan
langsung disekuli, yaitu dicelupkan dalam “tajin”
; kemudian dikeringkan. Apabila sudah kering, terus
dibironi. Perbedaan dengan cara di atas ialah tanpa
mengalami pengeringan yang pertama. Selain itu perbandingan
bahan-bahan ramuan nila tidak tentu, tetapi tergantung
dari perkiraan yang mengerjakan. Hal itu mungkin merupakan
kekalahan dalam tahap wedelan. |
 |
| |
B.
Nyoga |
| |
|
Sesudah
dibironi dan kering, batikan itu disoga. Caranya :
Batikan diwiru, yaitu dilipat bolak-balik (lipatan
spiral). Selesai diwiru, dima-sukkan ke dalam wadah
yang berisi soga hangat, ditekan-tekan sedemikian
rupa agar merata. Sesudah cukup rata diangkat, dan
disampirkan di atas wadah tersebut, supaya soga dapat
menetes kembali ke dalam wadah tadi. Jika cairan soga
tidak menetes lagi, maka batikan dijemur pada sinar
matahari sampai setengah kering, |
 |
| |
|
 |
kemudian
dipindah ke tempat teduh sampai kering. Sampai disini
barulah satu tahap nyoga ; sedang penggunaan masing-masing
soga akan berbeda pula tingkat-tingkatnya.
Setelah selesai menyoga, segera batikan disareni.
Kapur dan gula tebu dituangi air jambangan, diaduk
sampai hancur. Sesudah mengendap, maka air rendaman
dituangkan dalam kenceng. Batikan dimasukkan dalam
kenceng sampai merata ; kemudian diangkat sampai atus.
Sesudah atus, terus dipukul-pukul dalam air panas
supaya “malam” hilang. Memukulkan pada
air panas disebut “nglorot |
| |
|
atau
“nglungsur”. Setelah batikan “dilorot”
terus dicuci dan dijemur. Penjemuran batikan itu disebut
“dikemplang”. Sampai tahap ini disebut
“ambabar”. Setiap pagi hari batikan yang
sudah berupa kain itu diembun-embunkan. Selesailah
proses mbabar batikan. |
 |
| |
Drs.
Hamzuri, Batik Klasik , penerbit Djambatan, Jakarta
1981.
G.P. Rouffear
En H.H. Juynboll, DE BATIKKUNST, Th.1914
J. E. Jasper
en Mas Pirngadie, INLANDSCHE KUNSTNIJVERHEID
IN NEDERLANDSCH INDI, Gravenhage Door De Boek? &
Kunstdrukkerij, Mouton & Co.? 1916.
Rijksblad
van Djokjakarta No 19. th 1927
TJOKROSUHARTO.
Koleksi Pola Motif Batik,
Tim
Pengabdian pada Masyarakat Jurusan Sastra Daerah
Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, Pakaian
Adat Jawa Gaya Yogyakarta, 1995
|
. |
 |
|
|
 |
| 0 items |
 |
|
|
 |
Bahasa |
 |
|
 |
Mata Uang |
 |
|
 |
Customer Support |
 |
|
|
|
 |
We Accept |
 |
|
 |
Partner |
 |
|
|